Unila Gelar Workshop Kerja Sama Berdampak Perkuat IKU 5 dan Hilirisasi Riset
OTENTIK ( LAMPUNG ) -- Universitas Lampung (Unila) mengambil langkah konkret dalam mempercepat transformasi pendidikan tinggi dengan menggelar Workshop Kerja Sama Berdampak guna memantapkan langkah strategis universitas dalam penguatan Indikator Kinerja Utama (IKU) 5, percepatan hilirisasi riset, serta peningkatkan daya saing institusi. Kegiatan yang berlangsung interaktif ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pengelola kerja sama di lingkungan Unila.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afiani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng. yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya perubahan paradigma dalam membangun jejaring kelembagaan.
Menurutnya, kerja sama perguruan tinggi saat ini tidak boleh lagi sekadar berhenti di atas kertas kesepahaman (MoU), melainkan harus bertransformasi menjadi kolaborasi nyata yang memberikan dampak substantif bagi masyarakat, industri, dan kemajuan kampus.
Melalui pemenuhan IKU 5, kita mendorong setiap luaran riset dan inovasi dosen serta mahasiswa Unila untuk benar-benar terhilirisasi dan diserap oleh mitra kerja sama. “Harapannya, workshop ini menjadi pijakan kuat bagi Unila dalam memperluas jejaring strategis, memperkuat daya saing nasional maupun global, serta berkontribusi nyata dalam mencetak SDM unggul.” ujarnya.
Guna meletakkan fondasi kerja sama yang berdampak langsung pada perekonomian dan pembangunan talenta, workshop ini menghadirkan Firman Hidayat, S.S., M.Si., Kepala Bagian Evaluasi dan Kerja Sama Kemdiktisaintek. Dalam paparan bertajuk “Kerja Sama Perguruan Tinggi Berdampak”.
Firman membedah kesenjangan (skills gap) dunia kerja sebesar 21,72% dan tantangan riset nasional yang perlu diatasi. Kehadiran materi ini memberikan dorongan akselerasi bagi Unila untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri, mengalihkan fokus dari sekadar magang formalis menuju skema Teaching Factory (TEFA) dan Project-Based Learning (PBL).
Penekanan pada Kontrak Kinerja Berbasis Outcome (IKU 5 dan IKU 6) serta Tiga Pilar Dampak (Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan) menjadi acuan langsung bagi Unila untuk mengukur sejauh mana inovasi kampus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan mitra industri.
Langkah memperluas jangkauan dampak Unila ke panggung internasional dipertegas oleh narasumber kedua, Suryo Boediono, S.T., M.B.A., Ketua Tim Kerja Sama Luar Negeri Kemdiktisaintek. Melalui materi “Arah Kebijakan Internasionalisasi Perguruan Tinggi di Indonesia”.
Suryo mendorong transformasi kampus menuju University 4.0 berbasis kolaborasi quadruple-helix yang menjawab isu prioritas nasional seperti swasembada pangan, energi, hingga green economy.
Sesi ini memberikan peta jalan (roadmap) bagi Unila untuk menggenjot indikator reputasi global (Citations per Faculty dan International Research Network) serta memanfaatkan berbagai skema beasiswa internasional, seperti KNB, TIAS, hingga co-funding riset luar negeri guna meningkatkan mobilitas akademik dan memposisikan Unila sebagai pemain kunci menuju world class university.
Penyelenggaraan workshop ini menjadi momentum penting bagi Unila untuk menyatukan persepsi seluruh unit kerja. Dampak langsung dari kegiatan ini adalah hadirnya panduan operasional dan strategi terukur bagi para pengelola kerja sama di Unila dalam merancang kemitraan berbasis hasil (outcome-based), mempercepat proses komersialisasi hasil riset dosen, serta membuka jalan bagi lulusan Unila untuk bersaing secara global.(***)

Comments