Rektor UIN RIL Hadiri Peluncuran Buku Indonesia-Rusia dalam Pusaran Perang Dingin
OTENTIK ( BANDARLAMPUNG ) -- Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL), Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D., menghadiri peluncuran buku Indonesia-Rusia dalam Pusaran Perang Dingin: Geopolitik dan Diplomasi Soviet di Asia Tenggara karya Dr. Ahmad Fahrurodji, S.S., M.A., di Auditorium Gedung I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI), Senin (26/10/2026).
Dalam buku tersebut, Rektor UIN RIL turut memberikan anotasi berupa testimoni yang menyoroti posisi Rusia dalam dinamika tatanan dunia serta relevansi buku tersebut untuk memahami hubungan internasional, baik dari perspektif sejarah maupun perkembangan geopolitik kontemporer.
“Tatanan dunia boleh berubah dengan berbagai dinamikanya. Tapi satu hal yang pasti Rusia tetap menjadi salah satu episentrum dinamika tersebut,” tulis Prof. Wan Jamaluddin dalam testimoninya.
Rektor yang juga alumni St. Petersburg Rusia ini menjelaskan, buku ini hadir mencerahkan bagi mereka yang ingin memahami tentang Rusia pada konteks masa lalu, dan perspektif masa depannya, tak terkecuali pada panggung BRICS dalam konteks kekinian.
“Selamat menikmati buku penuh makna ini,” tambah Prof Wan.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc., yang hadir sebagai pembicara utama, mengapresiasi FIB UI yang terus membuka ruang bagi penelitian dan dialog lintas budaya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Russian Academy of Sciences atas dukungan terhadap penerbitan dan riset mengenai sejarah serta hubungan Indonesia-Rusia.
“Peluncuran buku ini merupakan momen pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan hubungan Indonesia–Rusia, dan pendalaman pemahaman kita terhadap sejarah diplomasi Indonesia. Ini merupakan kesempatan untuk meninjau kembali perjalanan sejarah; memahami bagaimana Indonesia membangun posisi di tengah persaingan kekuatan dunia, dan mengambil pelajaran bagi masa depan,” ungkap Fadli Zon.
Ia menjelaskan, buku tersebut mengangkat periode 1945–1964, fase penting dalam hubungan Indonesia dan Uni Soviet. Pada masa itu, Indonesia memperjuangkan pengakuan kemerdekaan sekaligus membangun legitimasi internasional. Dalam dinamika tersebut, Uni Soviet mengambil posisi mendukung perjuangan Indonesia melawan upaya kolonial Belanda.
Pengakuan formal Uni Soviet terhadap kedaulatan Indonesia dan pembentukan hubungan diplomatik kedua negara berlangsung pada 1950, setelah penyerahan kedaulatan pada Desember 1949.
Menurut Fadli Zon, momentum 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia pada 2026 mengingatkan kembali pada landasan politik luar negeri bebas aktif yang dicetuskan Mohammad Hatta melalui gagasan Mendayung di Antara Dua Karang (1948), serta semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung.
Selain diplomasi politik dan ekonomi, ia menekankan pentingnya sejarah sebagai fondasi diplomasi kebudayaan melalui hubungan antarmasyarakat atau people-to-people connection. Pada 2026, Kementerian Kebudayaan terus memperluas ruang kolaborasi Indonesia-Rusia di bidang permuseuman, pameran kebudayaan, perfilman, arsip sejarah, hingga pertukaran seni dan pengetahuan.
“Diplomasi kebudayaan dalam hal ini merupakan upaya membangun jembatan antara sejarah, pengetahuan, dan masa depan,” ujarnya.
Fadli Zon juga menekankan pentingnya kampus sebagai ruang akademik yang terbuka untuk menguji berbagai perspektif sejarah secara kritis, berimbang, dan bertanggung jawab. Ia berharap peluncuran buku ini dapat memperkaya kajian sejarah hubungan Indonesia-Rusia, mendorong dialog akademik di kalangan generasi muda, serta memperluas kerja sama kebudayaan kedua negara.
“Dan kita melihat bahwa hubungan Indonesia dan Rusia sekarang semakin baik, semakin positif, dan bahkan mungkin ini adalah masa-masa keemasan hubungan Indonesia dengan Rusia. Semoga karya ini dapat menjadi jembatan pengetahuan yang memperkuat pemahaman sejarah, memperluas dialog kebudayaan, dan membuka peluang kerja sama bagi Indonesia dan Rusia kini dan yang akan datang,” jelasnya.
Senada dengan Menbud, Duta Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia, Sergei Tolchenov, menyampaikan bahwa kerja sama ekonomi, kemanusiaan, militer, dan teknis selama masa Perang Dingin menjadi landasan penting bagi kedua negara untuk membawa hubungan Rusia-Indonesia ke tingkat kemitraan strategis serta mengembangkan berbagai bentuk kerja sama pada masa mendatang.
Peluncuran buku ini turut dihadiri Duta Besar Republik Belarus untuk Republik Indonesia, Raman Ramanouski; Duta Besar Republik Uzbekistan, Obyek Eshonov; Utusan Khusus Institute of Oriental Studies of the Russian Academy of Sciences, Vladimir Morozov; tokoh militer Indonesia sekaligus penulis, Chappy Hakim; akademisi dan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Ukraina, Yuddy Chrisnandi; Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mustafa Kamal; serta tokoh masyarakat, Gus Afi.
Hadir pula Dekan FIB UI, Untung Yuwono; penulis buku, Ahmad Fahrurodji; serta para narasumber diskusi, yakni I Ketut Surajaya, Budiman Sudjatmiko, Kusnanto Anggoro, dan Ali Mochtar Ngabalin.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan seni, dilanjutkan sambutan Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Duta Besar Rusia untuk Indonesia H.E. Sergei Tolchenov, perwakilan Oriental Tribune Institute of Oriental Studies H.E. Vladimir N. Morozov, serta penulis buku Dr. Ahmad Fahrurodji.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc., menyampaikan keynote speech sebelum prosesi peluncuran buku.
Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi buku yang menghadirkan Prof. Dr. I Ketut Suradjaya, Dr. Kusnanto Anggoro, M.M., Budiman Sudjatmiko, dan Prof. (Hon.) Dr. Ali Mochtar Ngabalin.
Adapun buku karya Ahmad Fahrurodji ini membahas geopolitik dan diplomasi Soviet di Asia Tenggara dalam konteks Perang Dingin, sekaligus menjadi referensi untuk memahami perjalanan hubungan Indonesia-Rusia serta dinamika peran Rusia dalam tatanan dunia kontemporer. (***)

Comments