Pemkot Bandar Lampung Perkuat Strategi Jemput Bola Lawan Tuberkulosis, Kejar Target 2030
OTENTIK ( BANDARLAMPUNG ) -- Pemerintah Kota Bandar Lampung tancap gas dalam perang melawan tuberkulosis atau TB.
Bukan lagi menunggu pasien datang ke puskesmas. Kini Dinas Kesehatan menerapkan strategi "jemput bola" lewat pelacakan kasus aktif, investigasi kontak, hingga pemantauan pengobatan.
Langkah ini bagian dari dukungan Pemkot untuk mengejar target nasional: eliminasi TB pada 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, mengatakan penemuan kasus secara aktif adalah kunci memutus mata rantai penyebaran TB.
"Upaya kami dalam menemukan kasus dilakukan dengan menitikberatkan pada penemuan kasus secara aktif, investigasi kontak, dan peningkatan kepatuhan pengobatan guna mencapai target eliminasi TB 2030," ujarnya, Senin 3 Agustus 2026.
Muhtadi menyebut cakupan penemuan kasus TB di Bandar Lampung terus naik dalam beberapa tahun terakhir. Itu berkat penguatan Sistem Informasi Tuberkulosis atau SITB. Serta semakin aktifnya faskes swasta dan kader kesehatan dalam melapor.
Meski begitu, perjalanan menuju eliminasi TB masih berat. Ada 3 tantangan utama.
Pertama, masih ada pasien yang putus berobat sebelum selesai.
Kedua, munculnya kasus TB Resistan Obat atau TB-RO.
Ketiga, stigma masyarakat terhadap penderita TB.
"Masih ada tantangan yang harus dihadapi, seperti pasien putus berobat, kasus TB resistan obat, dan stigma terhadap penderita TB," kata Muhtadi.
Belum lagi faktor mobilitas penduduk tinggi dan kepadatan permukiman. Dua hal ini berpotensi memperbesar risiko penularan melalui kontak erat.
Untuk mempercepat target, Pemkot memprioritaskan penguatan investigasi kontak. Khususnya di lingkungan berisiko tinggi.
Program ini juga diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis dan pemberian Terapi Pencegahan TB atau TPT bagi kelompok yang memenuhi kriteria.
Dinkes juga gencar edukasi. Sosialisasi dilakukan petugas promosi kesehatan bersama kader puskesmas lewat penyuluhan, posyandu, kampanye media sosial, hingga sebar leaflet, poster, dan banner.
Skrining aktif TB juga dilakukan berkala di lokasi rawan. Seperti permukiman padat, pondok pesantren, lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan, dan pelacakan lapangan terpadu.
Pemerintah Kota Bandar Lampung menargetkan pada 2030 angka insidensi dan kematian akibat TB ditekan hingga 90 persen.
"Target ini butuh keterlibatan semua pihak. Mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat," tutup Muhtadi. (***)

Comments