Akses Diblokir

Pemprov

Ada Telur, Ada Daging, Kok Konsumsi Protein Lampung Masih Rendah? Ini PR Besar Pemprov

OTENTIK ( BANDAR LAMPUNG ) -- Pemerintah Provinsi Lampung menyoroti anomali di sektor peternakan. Meski berstatus lumbung ternak, konsumsi protein hewani masyarakat Lampung justru masih di bawah rata-rata nasional.

Berdasarkan data BPS, konsumsi protein hewani berupa daging, telur, dan susu masyarakat Lampung tercatat 15,62 gram/kapita/hari. Angka ini menempatkan Lampung di posisi terendah kelima nasional dan di bawah rata-rata nasional 17,42 gram/kapita/hari.

Rata-rata pengeluaran bulanan untuk daging, telur, dan susu juga hanya Rp65.184 per kapita. Angka itu terendah kedua di Sumatera setelah Aceh, dan jauh dari Kepulauan Riau yang mencapai Rp125.002 per kapita.

Surplus Produksi, Tapi Konsumsi Minim

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Lili Mawarti menyebut ketersediaan komoditas melimpah belum berbanding lurus dengan konsumsi rumah tangga.

"Provinsi Lampung sebenarnya mengalami surplus yang sangat aman untuk komoditas pangan hewani. Namun ada disparitas antara ketersediaan dan tingkat konsumsi masyarakat," ujar Lili di Bandar Lampung.

Berdasarkan Prognosis Supply-Demand 2026 Disnakkeswan Lampung, neraca peternakan mencatat surplus signifikan. Daging sapi/kerbau surplus 1.213,8 ton dengan ketahanan stok 14 hari. Daging ayam ras surplus 22.996,1 ton dengan ketahanan 68 hari. Telur ayam ras surplus 46.863,7 ton dengan ketahanan 138 hari.

Menurut Lili, rendahnya konsumsi dipengaruhi pendapatan, preferensi, dan literasi gizi. 

"Aceh dan Bengkulu yang PDRB per kapitanya di bawah Lampung justru konsumsinya lebih tinggi. Artinya kesadaran gizi dan pola pengeluaran keluarga sangat krusial," imbuhnya.

Pemprov Genjot Intervensi Supply dan Demand

Untuk mengatasi masalah ini, Pemprov Lampung melalui Disnakkeswan merumuskan dua pendekatan.

Pendekatan Supply:

Penyaluran bantuan ternak produktif berupa unggas dan kambing perah ke masyarakat perdesaan agar kebutuhan susu, daging, dan telur bisa dipenuhi mandiri.

Pendekatan Demand:

1.  Fasilitasi akses permodalan dan bimtek pengolahan produk ternak bernilai tambah

2.  Edukasi gizi masif lewat kampanye dan Gerakan Konsumsi Telur 2 Butir per Hari

3.  Integrasi Program Makan Bergizi Gratis dan PKH

4.  Stabilisasi harga lewat pasar murah dan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi

"Melalui integrasi program hulu ke hilir, kita ingin memastikan komoditas peternakan yang berlimpah ini tidak hanya mengisi pasar luar daerah, tetapi menjadi sumber gizi utama bagi anak-anak dan keluarga di Lampung demi mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting," pungkas Lili.(***)

Comments