Akses Diblokir

Pendidikan

Wow! 111 Ribu Siswa Lampung Siap Hadapi TKA 2026

OTENTIK ( LAMPUNG ) -- Sebanyak 111.165 siswa jenjang SMA, SMK, SLB, dan Program Kejar Paket C di Provinsi Lampung akan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. TKA 2026 Lampung mulai digelar akhir Oktober mendatang.

Menghadapi TKA 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung tidak hanya mendorong sekolah memperbanyak latihan soal. Penguatan kualitas pembelajaran dan kompetensi guru menjadi perhatian utama.

Salah satu langkah yang disiapkan yakni program Double Teaching. Program tersebut menghadirkan dua guru dalam satu kelas untuk mengajar bersama sekaligus saling bertukar metode pembelajaran.

Kepala Disdikbud Lampung Thomas Amirico, S.STP., M.H. mengatakan TKA jenjang pendidikan menengah berlangsung dalam beberapa tahap mulai 26 Oktober hingga 8 November 2026.

TKA reguler gelombang pertama dijadwalkan 26-29 Oktober. Kemudian gelombang kedua pada 2-5 November. Sementara TKA khusus mata pelajaran wajib dilaksanakan 31 Oktober-1 November, disusul mata pelajaran pilihan pada 7-8 November 2026.

Jadwal tersebut mengikuti ketetapan pemerintah pusat mengenai pelaksanaan TKA jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat.

Disdikbud Minta Sekolah Latih Siswa Pakai Bank Soal

Thomas meminta sekolah serius mempersiapkan peserta didik. Sekolah perlu memanfaatkan bank soal dan memastikan pembelajaran berlangsung rutin.

“Harapannya pihak sekolah segera melatih siswa menggunakan bank soal dan menyiapkan materi pembelajaran. Anak-anak juga harus dipersiapkan agar dapat belajar dengan giat,” kata Thomas, Rabu (23/9/2026).

Namun menurut Thomas, persiapan TKA tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan memperbanyak latihan soal.

TKA menjadi instrumen untuk melihat capaian kognitif siswa sekaligus mengevaluasi proses pembelajaran selama tiga tahun.

“Artinya, kita mengukur capaian kognitif masing-masing siswa untuk mengetahui apakah proses belajar mereka selama tiga tahun ini berjalan dengan baik,” ujarnya.

Karena itu, Disdikbud Lampung mengarahkan perhatian pada penguatan proses pembelajaran, termasuk peningkatan kualitas guru. Salah satu fokus adalah mata pelajaran Matematika.

Upaya tersebut diterjemahkan melalui program Double Teaching yang akan diuji coba di 17 SMA di Bandar Lampung.

Konsep Double Teaching Dua Guru Satu Kelas

Konsep Double Teaching berbeda dengan pembelajaran biasa. Dalam satu kelas nantinya terdapat dua guru yang mengajar bersama.

Satu guru merupakan guru dari sekolah yang bersangkutan, sementara guru lainnya berasal dari sekolah berbeda dan menjalani sistem rotasi.

Kehadiran dua guru bukan sekadar menambah jumlah pengajar. Keduanya diharapkan dapat saling mengamati metode pembelajaran, memberikan penjelasan tambahan, dan mendorong siswa lebih aktif bertanya.

Thomas mencontohkan, seorang guru dari SMA 2 dapat ditempatkan mengajar bersama guru SMA 9. Ketika satu guru menyampaikan materi menggunakan panel interaktif, guru lainnya mengamati proses pembelajaran sekaligus membantu siswa lebih aktif.

Pada kesempatan berikutnya, peran tersebut dapat dilakukan secara bergantian.

“Artinya, mau tidak mau, saya juga harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Ini akan memotivasi kualitas mengajar,” kata Thomas.

Tahap awal program melibatkan 17 SMA yang seluruhnya berada di Bandar Lampung. Setelah evaluasi, Disdikbud akan memperluas ke kabupaten/kota.

Thomas menyebut seluruh surat perintah tugas (SPT) untuk pelaksanaan program tersebut telah disiapkan.

Dalam skema Double Teaching, guru tidak menetap di satu sekolah. Rotasi dilakukan setiap satu bulan dan berlangsung selama satu tahun. Guru akan berputar di 17 sekolah tersebut.

Program dijadwalkan mulai berjalan Senin depan, dengan apel peluncuran pada Kamis, 24 September 2026, pukul 07.30 WIB.

Thomas berharap pola tersebut menciptakan pertukaran pengetahuan antar guru.

“Guru tamu dari sekolah lain dan guru internal dapat saling berbagi ilmu mengenai cara mengajar yang baik,” ujarnya.

Bangun Kompetisi Positif Antar Guru

Selain pertukaran pengetahuan, program tersebut juga diarahkan untuk membangun kompetisi positif di kalangan guru.

Dengan dua guru berada dalam satu kelas, masing-masing dituntut mempersiapkan materi dan metode pembelajaran secara lebih baik.

“Kalau ada guru yang kurang menguasai materi, dia akan merasa malu dengan rekannya dan terdorong untuk terus belajar. Kita ingin membangun iklim kompetisi yang positif seperti itu,” kata Thomas.

Bagi Disdikbud Lampung, persiapan menghadapi TKA tidak cukup hanya dengan meningkatkan intensitas latihan soal. Kualitas guru dan proses pembelajaran di kelas juga perlu diperkuat.

“Program Double Teaching diharapkan tidak berhenti sebagai persiapan TKA 2026, tetapi berkembang menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah-sekolah Lampung. Ini demi meningkatkan mutu dan kualitas guru,” kata Thomas. (***)

Comments