2 Jam di RSUDAM Mengubah Cara Pandang: BEM Poltekkes Tanjung Karang Gagas Gerakan Peduli Pasien
OTENTIK ( LAMPUNG ) -- Kepedulian tidak selalu harus diwujudkan dengan hal besar. Terkadang, cukup dengan meluangkan waktu, hadir, dan mau mendengarkan mereka yang sedang berjuang melawan sakit.
Pesan itulah yang menjadi makna penting dari kunjungan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjung Karang periode 2025, Ryanda Agma Putra, di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung, Rabu (23/9/2026).
Selama sekitar dua jam, Ryanda menyusuri lingkungan RSUDAM. Ia melihat langsung aktivitas pelayanan, berinteraksi dengan pasien yang tengah menjalani perawatan, serta keluarga yang setia mendampingi.
Bagi Ryanda, kehadiran mahasiswa kesehatan di rumah sakit bukan sekadar observasi. Ini adalah tanggung jawab sosial untuk memahami persoalan masyarakat dari dekat, bukan hanya dari ruang akademik.
Mahasiswa Jadi Mitra Kritis Rumah Sakit
Dalam dialog tersebut, Ryanda juga menyerap sejumlah masukan terkait pelayanan, aksesibilitas, alur administrasi, hingga kebutuhan tenaga kesehatan.
Ia pun melontarkan pertanyaan reflektif yang kerap muncul di tengah masyarakat.
“Mengapa banyak sekali masyarakat yang menilai pelayanan di RSUD Abdul Moeloek kurang baik? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sistem ini?” ujar Ryanda.
Pertanyaan itu justru membuka ruang dialog konstruktif antara mahasiswa dan manajemen rumah sakit. BEM Poltekkes menegaskan, penyampaian aspirasi tidak harus berujung pada pertentangan. Mahasiswa bisa menjadi mitra kritis yang memberi masukan sekaligus ikut mencari solusi.
Direktur RSUDAM Apresiasi dan Gagas Gerakan 2 Jam
Semangat tersebut mendapat respons positif dari Direktur RSUDAM Provinsi Lampung, dr. Imam Ghozali,Sp.An., KMN., M.Kes.
Imam mengapresiasi kehadiran Ryanda yang dinilainya jujur dan tulus meluangkan waktu di tengah pasien.
“Terima kasih atas keberpihakan, atas dua jam kehadiran yang jujur di tengah pasien RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung,” kata Imam.
Dari momentum dua jam itulah, Imam kemudian menggagas sebuah ajakan sederhana namun sarat makna bernama
Gerakan Sisihkan 2 Jam Kehidupan.
Gerakan ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meluangkan sedikit waktu dari kesibukan sehari-hari untuk hadir di rumah sakit dan memberi perhatian kepada pasien maupun keluarga pasien.
“Sisihkan 2 jam saja dari kehidupan keseharian kita. Hadirlah di tengah kami di RS,” ajak Imam.
Menurutnya, dua jam mungkin singkat bagi orang sehat, namun bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan atau keluarga yang menunggu kesembuhan, kehadiran seseorang bisa sangat berarti.
“Menjadi relawan tidak harus setiap hari. Cukup dua jam. Cukup hadir. Cukup menjadi manusia untuk manusia lainnya,” tuturnya.
Gerakan ini sekaligus memperkuat semangat PUAKHI Care, program kepedulian sosial RSUDAM yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kemanusiaan. Imam menegaskan, kepedulian tidak harus selalu berbentuk materi. Waktu, perhatian, dan kemauan untuk mendengarkan juga merupakan bantuan yang sangat berarti.
“Kehadiran Ryanda menjadi contoh bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam membangun komunikasi positif dengan institusi pelayanan publik,” pungkasnya. (*)

Comments