Akses Diblokir

Pendidikan

UIN Raden Intan Lampung Perkuat Kapasitas Peneliti melalui Bimtek STEM Research Trends

Foto: DOK HUMAS UIN RIL

OTENTIK ( BANDARLAMPUNG ) -- Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) terus memperkuat budaya dan kapasitas penelitian di lingkungan perguruan tinggi. Salah satu penguatan kapasitas ini dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) STEM Research Trends: Pengembangan Riset Inovatif, Interdisipliner, dan Berdampak yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Academic & Research Center ini dibuka oleh Rektor Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D, Rabu (4/11/2026). 

Kegiatan yang diikuti oleh para dosen ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dalam mengembangkan penelitian yang inovatif, mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, serta menghasilkan luaran penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Prof. Wan Jamaluddin menegaskan bahwa universitas memberikan perhatian terhadap pertumbuhan atmosfer dan budaya penelitian di lingkungan kampus. Menurutnya, penguatan tradisi riset perlu terus dilakukan, meskipun dalam pelaksanaannya masih dihadapkan pada berbagai keterbatasan, terutama berkaitan dengan kebijakan dan dukungan anggaran pemerintah.

“Kita harus terus meng-upgrade kapasitas para peneliti di kampus kita. Jangan hanya mengandalkan potensi yang ada di internal kampus, tetapi juga perlu membuka ruang kolaborasi dan memperluas jejaring penelitian dengan berbagai pihak,” ujar Rektor.

Lebih lanjut, Rektor menjelaskan bahwa pengembangan penelitian juga sejalan dengan mandat transformasi kelembagaan UIN Raden Intan Lampung sejak 2017, yakni mengintegrasikan keilmuan dengan penguatan nilai-nilai Islam. 

Oleh karena itu, lanjutnya, peningkatan kapasitas peneliti, khususnya calon peneliti muda, perlu disertai semangat juang, keberanian berkompetisi, serta kemampuan menangkap peluang pendanaan penelitian di luar lingkungan internal perguruan tinggi.

Rektor turut menyinggung capaian empat tim peneliti yang berhasil memperoleh pendanaan dengan total nilai mencapai Rp3,9 miliar. Capaian tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para dosen untuk terus meningkatkan kualitas proposal, memperluas kolaborasi, dan berani bersaing dalam memperoleh pendanaan riset.

Ia menjelaskan, penelitian tidak semestinya berhenti ketika kegiatan atau laporan penelitian telah selesai. Lebih dari itu, hasil penelitian harus mampu memberikan manfaat berkelanjutan, menjawab persoalan masyarakat, serta menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.

“Penelitian harus menjadi penelitian yang berdampak. Bahkan, kalau bisa, memiliki perspektif amal jariyah. Artinya, manfaat penelitian tidak berhenti ketika penelitian selesai, tetapi terus dirasakan oleh masyarakat dan memberikan kontribusi dalam jangka panjang,” tegasnya.

Rektor berharap Bimtek ini dapat menjadi ruang penguatan kompetensi sekaligus mendorong lahirnya peneliti-peneliti yang produktif, kompetitif, dan mampu menghasilkan karya ilmiah yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Ketua LP2M sekaligus Ketua Pelaksana, Dr. Ali Abdul Wakhid, M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 48 dosen dari berbagai fakultas. Keikutsertaan dosen lintas bidang keilmuan tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan dan mendorong kolaborasi dalam pengembangan riset yang lebih inovatif dan terintegrasi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber Prof. Dr. Abdurrahman, M.Si., Guru Besar Pendidikan Fisika Universitas Lampung (Unila).

Ia memiliki pengalaman akademik dan kelembagaan di bidang pendidikan tinggi, di antaranya pernah menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik FKIP Unila, Wakil Direktur Bidang Akademik Pascasarjana Unila, serta Kepala LP3M Unila periode 2023–2025. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala LPPM Universitas Lampung dan reviewer BIMA Kemendiktisaintek.

Dalam penyampaian materinya, Prof. Abdurrahman menjelaskan pentingnya pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dalam pengembangan riset. Menurutnya, STEM menjadi pendekatan yang relevan karena mampu mengintegrasikan berbagai bidang keilmuan untuk menghasilkan solusi terhadap persoalan yang semakin kompleks.

Ia menguraikan tiga perspektif fundamental STEM dalam pendidikan. Pertama, STEM sebagai pendekatan interdisipliner dan multidisipliner, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, cara berpikir, pengetahuan, dan praktik ilmiah untuk membangun pemahaman yang lebih utuh terhadap suatu permasalahan.

Kedua, STEM sebagai konten atau materi. Dalam perspektif ini, STEM dipandang sebagai kandungan kurikuler yang mencakup konsep-konsep esensial, prinsip, serta keterampilan utama dari bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika yang diorganisasikan secara terpadu. Integrasi tersebut memungkinkan pengembangan pengetahuan yang tidak terpisah-pisah, melainkan saling berkaitan dalam menjawab kebutuhan dan tantangan nyata.

Ketiga, STEM sebagai aktivitas atau inkuiri. Perspektif ini menempatkan STEM sebagai serangkaian aktivitas berbasis penyelidikan ilmiah, perancangan dan rekayasa, serta pemikiran komputasional untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menemukan solusi atas suatu permasalahan.

Peserta diajak memahami bahwa pengembangan riset tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori atau pemenuhan kebutuhan akademik, tetapi juga memerlukan keterpaduan pengetahuan, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan merancang solusi yang aplikatif.(***)

Comments