Amuk Massa Berulang di Lampung, Pengamat: Warga Sudah di Titik Jenuh
OTENTIK ( BANDAR LAMPUNG ) – Dua terduga pelaku curanmor tewas di tangan massa dalam sepekan terakhir di Lampung. Peristiwa ini terjadi di Desa Way Huwi, Desa Marga Agung, Lampung Selatan, dan Kabupaten Pringsewu.
Pola yang muncul sama. Warga menghukum pelaku sebelum polisi datang. Rentetan kejadian ini munculkan pertanyaan besar soal keamanan di Lampung.
Amuk Massa Cermin Kejenuhan Warga
Pengamat Hukum Universitas Bandar Lampung/UBL, Rifandy Ritonga, sebut amuk massa jadi sinyal keras. Masyarakat sudah jenuh hadapi begal dan curanmor.
"Peristiwa ini sinyal keras. Masyarakat sudah di titik jenuh hadapi maraknya kejahatan jalanan, khusus begal dan curanmor di Lampung," kata Rifandy, Ahad 7 Juni 2026.
Menurut dia, kejahatan jalanan bikin warga waswas. Warga takut lewat jalan sepi. Warga cemas pulang malam. Warga ragu parkir motor depan rumah.
Negara Harus Hadir Lebih Cepat
Rifandy bilang kondisi ini jadi alarm buat aparat dan pemda. Saat warga main hakim sendiri, kepercayaan ke negara ikut tergerus.
"Negara harus hadir lebih kuat, lebih cepat, dan lebih terlihat. Hukum belum cukup hadir, kepercayaan publik bisa tergerus," ujarnya.
Dia minta polisi respons cepat dan konsisten. Penegakan hukum harus pulihkan kepercayaan masyarakat. Negara harus tunjukkan masih kendalikan keamanan publik.
Jaringan Penadah Harus Diputus
Rifandy minta aparat tegas ke pelaku begal dan curanmor. Tapi jangan stop di pelaku lapangan.
"Curanmor dan begal tidak berdiri sendiri. Ada jaringan, ada penadah, ada pasar gelap. Aparat harus bongkar sampai akar-akarnya," kata dia.
Dia juga ingatkan main hakim sendiri tetap salah. Negara hukum punya mekanisme peradilan. Pelaku harus diproses lewat jalur hukum, bukan dihukum massa.
Rasa Percaya Jadi Korban Berikutnya
Fenomena ini tunjukkan persoalan keamanan Lampung selesai. Masalahnya bukan cuma angka kriminalitas. Masalahnya warga mulai kehilangan sabar.
Jika dibiarkan, korban berikutnya bukan cuma sasaran kejahatan. Korban bisa juga pelaku yang tewas di amuk massa. Itu terjadi karena warga tak percaya hukum bekerja lebih cepat dari kemarahan. (***)

Comments