Akses Diblokir

Pendidikan

UIN RIL Kuatkan Tata Kelola Perguruan Tinggi Inklusif, Ramah, dan Responsif Gender

Foto: DOK HUMAS UIN RIL

OTENTIK ( CIREBON ) -- Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) terus berkomitmen dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang inklusif, ramah, dan responsif gender terhadap seluruh warga kampus. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN RIL, Dr. Yunidar Cut Mutia Yanti, M.Sos.I., Sabtu (4/7/2026), usai pelaksanaan Konsolidasi Nasional PSGA PTKI se-Indonesia di Gedung Siber SBSN UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Pada kegiatan tersebut, UIN RIL mendapat penghargaan Implementasi Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) Award 2025 dengan kategori Peringkat Pratama yang diumumkan pada Kamis (2/7/2026). 

Penghargaan diserahkan oleh Kasubdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Agama, Nur Kafid, bersama Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. H. Aan Jaelani, M.Ag, dan diterima langsung oleh Kepala PSGA UIN RIL.

UIN RIL memperoleh skor 740, meningkat signifikan dibandingkan skor 645 pada tahun 2024. Capaian tersebut menempatkan UIN RIL sebagai salah satu dari 15 PTKI yang berhasil meraih Peringkat Pratama dari total 44 PTKI peserta seleksi. Proses penilaian meliputi verifikasi administrasi, evaluasi dokumen, serta presentasi praktik baik. Penghargaan diberikan dalam tiga kategori, yaitu Utama, Madya, dan Pratama.

Yunidar mengatakan, penghargaan ini merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika dalam memperkuat implementasi kampus yang responsif gender. Ia melanjutkan, UIN RIL melalui PSGA terus berupaya mewujudkan lingkungan kampus yang bebas dari segala bentuk kekerasan. 

“Alhamdulillah, capaian ini menjadi bentuk apresiasi dan motivasi bagi kami untuk terus memperkuat program-program PSGA, memperluas kolaborasi, dan memastikan nilai-nilai keadilan gender terintegrasi dalam kebijakan maupun budaya akademik di UIN RIL,” ujar Yunidar.

Menurutnya, penghargaan tersebut juga menjadi dorongan untuk terus mengembangkan praktik-praktik baik dalam pencegahan dan penanganan kekerasan, penguatan kelembagaan, pendidikan publik, serta pengarusutamaan gender di lingkungan perguruan tinggi.

Konsolidasi Nasional PSGA PTKI se-Indonesia berlangsung pada 30 Juni–3 Juli 2026 di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dengan mengusung tema “Meneguhkan Spirit Keulamaan Perempuan dalam Transformasi Ekosistem PTKI yang Adil Gender dan Nir Kekerasan.”

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan tinggi keagamaan yang adil gender, inklusif, ramah anak, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan. Forum tersebut digelar di tengah meningkatnya perhatian terhadap berbagai kasus kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender di lingkungan pendidikan, sehingga diperlukan penguatan implementasi regulasi secara berkelanjutan.

Selama lebih dari satu dekade, PSGA di berbagai PTKI telah berperan dalam mempromosikan keadilan gender, perlindungan perempuan dan anak, pengembangan kajian keilmuan yang responsif gender, serta pembentukan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Berbagai praktik baik telah dikembangkan melalui penguatan kebijakan kampus, pembentukan unit layanan, pendidikan publik, pendampingan korban, penelitian, pengembangan kurikulum, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Sejumlah isu strategis yang dibahas dalam forum tersebut meliputi tren perkembangan kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi, implementasi regulasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di PTKI, penguatan kelembagaan PSGA, integrasi program PSGA dalam kebijakan dan perencanaan perguruan tinggi, dukungan sumber daya manusia dan pembiayaan, hingga penguatan kampus ramah anak, inklusif bagi penyandang disabilitas, dan responsif terhadap kelompok rentan.

Rangkaian kegiatan meliputi Musyawarah Nasional PSGA Ke-4, perumusan deklarasi dan rekomendasi nasional, refleksi dan berbagi praktik baik Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) Ke-3, Konferensi Internasional Ke-4, serta napak tilas ulama perempuan di Cirebon.

Forum ini dihadiri pengurus PSGA PTKI se-Indonesia, pimpinan perguruan tinggi keagamaan, akademisi, peneliti, aktivis perempuan, anak dan disabilitas, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, mahasiswa, serta kelompok muda. 

Saat membuka kegiatan, dilansir dari laman Kemenag, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., menegaskan bahwa PSGA PTKI perlu memperluas kontribusi kepada masyarakat dan tidak hanya berfokus pada publikasi ilmiah.

Menurutnya, hasil riset harus memberikan dampak nyata dalam menjawab persoalan bangsa, seperti penanganan stunting, penguatan ketahanan keluarga, hingga mendukung program strategis pemerintah.

“Kita tidak boleh lagi hanya berpikir di dalam kampus. Kita harus keluar dan terlibat dalam dinamika sosial keagamaan yang terjadi di masyarakat dengan mengkapitalisasi sumber daya yang dimiliki perguruan tinggi,” ujar Kamaruddin.

Ia juga mengingatkan bahwa persoalan stunting dan tingginya angka perceraian menjadi tantangan serius yang membutuhkan kontribusi nyata dari kalangan akademisi untuk memperkuat ketahanan keluarga dan pembangunan bangsa.

Hadir pula sejumlah narasumber nasional dan internasional, di antaranya Direktur Jenderal Pendidikan Islam Prof. Dr. Amien Suyitno, M.A.; Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Prof. Dr. M. Arskal Salim GP., M.Ag.; Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A.; Anggota DPR RI Dr. Rieke Diah Pitaloka; akademisi Dr. Nur Rofiah; Katrin Bandel, Ph.D. dari Jerman; KH. Dr. (HC.) Husein Muhammad dan Nyai Hj. Masriah Ava; serta perwakilan Komnas Perempuan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.(***)

Comments