Peringati Hari Santri, FPI UIN RIL Dorong Pesantren Ramah Kesehatan Mental
OTENTIK ( BANDARLAMPUNG ) -- Counseling Corner Fakultas Psikologi Islam (FPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) menggelar webinar nasional bertema Pesantren Ramah Jiwa: Membangun Resiliensi dan Kesehatan Mental Santri di Era Digital, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Santri 2026 dan bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung.
Webinar menghadirkan dua narasumber, yakni Miswanto, MHI, Kepala Bidang Kepesantrenan Pondok Pesantren Al Hikmah Bandar Lampung, dan Octa Reni Setiawati, M.Psi., Psikolog, dari Majelis Psikologi Wilayah Lampung. Kegiatan dipandu oleh dosen FPI UIN RIL, Nurul Isnaini, M.Psi., serta diikuti para santri Pondok Pesantren Al Hikmah secara daring.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza. Ia mengapresiasi kegiatan yang mengangkat isu kesehatan mental santri di tengah tantangan kehidupan modern.
“Tantangan remaja dan keluarga saat ini tidak lagi hanya soal ekonomi, tetapi juga kecemasan, stres, dan tekanan media sosial. Di sinilah peran psikologi Islam menjadi jembatan yang sangat penting, sebuah pendekatan yang tidak hanya menyentuh pikiran, tetapi juga menenangkan hati dengan nilai-nilai agama,” ujarnya.
Ia berharap momentum Hari Santri dapat dimanfaatkan untuk membangun generasi muda Lampung yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan kuat secara spiritual.
Rektor UIN RIL yang diwakili Wakil Rektor I, Prof. Andi Thahir, M.A., Ed.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehidupan pesantren memiliki tantangan tersendiri. Selain menjalani jadwal yang padat dan disiplin yang ketat, santri juga menghadapi perkembangan media sosial, interaksi sosial, perundungan, serta kelelahan akibat paparan informasi.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut santri memiliki resiliensi atau daya lenting dalam menghadapi kesulitan. Karena itu, melalui Fakultas Psikologi Islam dan program layanan Counseling Corner, UIN RIL berupaya menghadirkan pendampingan bagi masyarakat, termasuk lingkungan pesantren.
Kolaborasi dengan Pondok Pesantren Al Hikmah menjadi salah satu upaya menghubungkan pendekatan psikologi dengan nilai-nilai kepesantrenan sebagai bentuk pengabdian perguruan tinggi.
“Kesehatan mental anak-anak kita adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para santri agar tidak ragu bercerita kepada ustaz, pengasuh, teman, atau keluarga ketika menghadapi persoalan.
“Kelelahan, tekanan, kecemasan, dan lainnya adalah hal yang manusiawi. Itu bukan tanda lemahnya iman. Jangan ragu meminta bantuan karena itu merupakan bentuk keberanian dan ikhtiar menjaga amanah jiwa yang Allah titipkan,” pesannya.
Dalam pemaparan bertajuk Santri Tangguh, Jiwa Bertumbuh: Transformasi Pengasuhan Pesantren Menuju Ekosistem Ramah Mental di Era Digital , Miswanto menekankan pentingnya pola pengasuhan yang mendukung perkembangan mental santri tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.
Ia menjelaskan, santri tangguh bukanlah santri yang harus selalu terlihat kuat atau mampu menanggung semua persoalan sendiri. Santri tangguh adalah mereka yang mampu menghadapi kesulitan dengan ikhtiar yang wajar, memanfaatkan dukungan lingkungan, dan bangkit tanpa kehilangan harga diri.
“Ketika santri mengalami permasalahan dan tidak mampu menyelesaikannya sendiri, mereka harus berkonsultasi kepada pengurus yang telah disiapkan sebagai pendidik dan pendamping di pesantren,” jelasnya.
Miswanto juga menyoroti pentingnya pola pengasuhan yang lemah lembut, dialogis, dan mendidik. Menurutnya, kedisiplinan tidak harus diterapkan melalui kekerasan atau hukuman yang menyakiti. Ia mencontohkan penerapan tata tertib di Pondok Pesantren Al Hikmah yang mengedepankan sistem poin dan sanksi edukatif, seperti mengaji, menghafal, serta membersihkan lingkungan sesuai kemampuan santri.
Selain itu, ia menekankan lima modal khas pesantren dalam membangun ketangguhan santri, yaitu *uswah* atau keteladanan, ta’lim dan adab atau pembelajaran dan pembentukan adab, *ukhuwah* atau persaudaraan, riyadhah atau ibadah dan latihan pengendalian diri, serta khidmah.
Ia menambahkan, pesantren perlu terbuka terhadap perkembangan zaman dan berkolaborasi dengan tenaga profesional, termasuk psikolog, untuk membantu menangani persoalan psikologis santri. Namun, keterbukaan tersebut tetap harus menjaga nilai dan ciri khas pesantren.
Sementara itu, Octa Reni Setiawati, M.Psi., Psikolog, dalam materi Pesantren Ramah Jiwa membahas kesehatan mental santri, resiliensi, serta tantangan kehidupan di era digital.
Ia menjelaskan bahwa santri menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik dan hafalan, jauh dari keluarga, penyesuaian sosial dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda, hingga disiplin dan dinamika kehidupan di asrama.
Pada fase remaja, santri juga sedang menjalani proses pencarian identitas dan belajar mengelola emosi. Tekanan sosial, termasuk intimidasi antara senior dan junior, dapat menjadi tantangan apabila tidak ditangani dengan tepat.
Menurut Octa, tekanan psikologis yang tidak tertangani dapat berdampak pada penurunan motivasi belajar, gangguan emosi, perubahan perilaku, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.
Ia mengingatkan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya gangguan, tetapi juga kemampuan seseorang untuk mengenali potensinya, mengelola emosi, beradaptasi, menjalin hubungan sosial, dan menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal.
Karena itu, santri membutuhkan ruang aman untuk bertumbuh dan berkembang sesuai tahap perkembangannya. Persoalan kesehatan mental juga tidak semestinya langsung dikaitkan dengan lemahnya iman, sebab tekanan psikologis dapat dialami siapa saja dan perlu ditangani secara tepat. (***)

Comments