Pembangunan

Tim Monitoring UP2K Sosialisasi Tentang Penanganan Gizi Buruk

Tim monitoring UP2K dan pihak Kecamatan Sukadana adakan sosialisasi tentang penanganan gizi buruk di aula Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur (Lamtim), Rabu (13/9/2017).

OTENTIK (LAMTIM)–Melalui program pemerintah tentang penanganan gizi buruk, Tim monitoring UP2K dan pihak Kecamatan Sukadana adakan sosialisasi di aula Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur (Lamtim), Rabu (13/9/2017).

Acara yang dihadiri oleh camat Sukadana Cen Suatman, tim monitoring UP2K dan penanganan gizi buruk Kabupaten Lamtim, TP PKK Kabupaten Lamtim, Puskesmas Sukadana, Puskesmas Pakuan Aji, serta ibu dan bayi.

Dalam sambutannya, dr. Satya kepala Puskesmas Sukadana menyampaikan jika Kecamatan Sukadana dengan 20 desa yang dibina 2 puskesmas, yaitu Puskesmas Sukadana 13 Desa Binaan, dan Puskesmas Pakuan Aji dr. Eka dengan 7 desa binaan.

"Laporan dari Puskesmas Pakuan Aji ada 10 yang terkena, dan Puskesmas Sukadana ada 9 yang menderita gizi buruk, tersebar di 20 desa. dengan adanya hal tersebut, kita berusaha menangani nya dan mencari sebab mengapa bisa terjadi hal tersebut,  bagaimana faktor utamanya, apakah ada penyakit penyertanya, ada kelainan bawaan, dari faktor lingkungan, atau kurangnya pengetahuan ibu akan makanan yang bergizi dan berimbang," terang kepala Puskesmas Sukadana.

Lebih lanjut dr. Satya menjelaskan, tidak dipungkiri, bahwa masyarakat dalam melihat ciri gizi buruk masih minim, sehingga dalam penanganannya pun jadi terlambat, selain itu ditopang pula dengan kebersihan lingkungan yang masih sering diabaikan.

"Posyandu adalah tempat menimbang bayi sehingga bayi dapat diketahui status gizinya. Gizi baik, gizi kurang dan gizi buruk, sayangnya untuk saat ini masyarakat enggan membawa bayi balitanya untuk ditimbang ke Posyandu. Karena di Posyandu dapat diketahui status gizi balita. Perlu kerjasama elemen masyarakat terutama PKK Kecamatan dan desa untuk memotivasi ibu-ibu yang mempunyai balita untuk ikut ke Posyandu," paparnya.

Masih penjelasan dr. Satya, "jika berat badan balita tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut dan berada dalam garis merah, nah balita inilah yang harus di intervensi dengan pemberian zat gizi untuk memicu kenaikan berat badannya atau balita dirujuk ke dokter untuk melihat adakah penyakit penyerta yang dapat mempengaruhi penyerapan gizi anak tersebut, diharapkan dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan dapat mengurangi  jumlah penderita gizi buruk di Kecamatan Sukadana ini," tutupnya.

Dalam acara itu Tim UP2K Kabupaten Lamtim menyerahkan bantuan dari Bupati Lamtim untuk anak-anak dengan gizi kurang.

Di lain pihak di tempat berbeda, Ketua IDI Kabupaten Lamtim dr. Nila Sandriwati Tanjung, mengatakan, saat ini Indonesia memiliki beban ganda masalah gizi. Disaat masalah Gizi buruk dan gizi kurang belum terselesaikan, prevalensi gizi lebih justru ikut meningkat bahkan hampir menyamai jumlah anak gizi kurang dan gizi buruk. Fenomena inilah yang dinamakan "Beban Ganda Masalah Gizi."

Menerapkan GERMAS dibarengi memperhatikan pola makan gizi seimbang dengan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa mengatasi solusi ini. Rutin melakukan aktivitas fisik setiap hari, menjaga kebersihan lingkungan dan menjaga "berat badan (BB) ideal" sangat penting.

"Jika diibaratkan "sebuah rumah" maka ada "empat pilar prinsip" yang harus dipenuhi agar rumah tersebut dapat berdiri kokoh, begitu pula tubuh harus mengonsumsi makanan beranekaragam, dan ingat, tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjamin pertumbuhan dan mempertahankan kesehatannya, kecuali Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi baru lahir sampai berusia 6 bulan," jelas dr. Nila.

Selain itu STBM (Sanitasi Berbasis Total Berbasis Lingkungan) merupakan suatu pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan tidak buang air besar (BAB) sembarangan, mencuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah dengan benar, mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.

"STBM adalah yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit. Melakukan aktivitas fisik secara rutin, terukur dan teratur gunanya untuk menyeimbangkan antara pengeluaran energi dan pemasukan zat gizi kedalam tubuh, Mempertahankan dan memantau Berat Badan (BB) dalam batas normal atau BB ideal," pungkas Ketua IDI. (jn/red)


Comments