Satu Dekade Bertaruh Nyawa di Atas Rakit, Pemprov Lampung Gandeng TNI Bangun Jembatan Kali Pasir
OTENTIK ( LAMPUNG TIMUR ) – Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah konkret untuk mengakhiri bertaruh nyawanya puluhan siswa yang setiap hari menyeberangi sungai menggunakan rakit. Pembangunan Jembatan Kali Pasir yang menghubungkan Desa Kali Pasir dan Tanjung Tirto, Kecamatan Way Bungur, kini resmi menjadi prioritas utama.
BACA JUGA: Polsek Bumi Ratu Nuban Ungkap Kasus Curat, Satu Pelaku Penadahan Diringkus
Langkah ini diambil sebagai solusi permanen atas akses pendidikan yang selama ini terhambat oleh derasnya arus Sungai Batanghari.
Penanganan Cepat Melibatkan Kodam II/Sriwijaya
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, M. Taufiqullah, mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan darurat ini dikoordinasikan langsung bersama Panglima Kodam II/Sriwijaya. Keterlibatan TNI dinilai krusial mengingat kondisi medan yang berisiko tinggi.
“Alhamdulillah saat ini sudah diprioritaskan lewat program Jembatan Merah Putih. Pak Gubernur langsung yang meminta kepada Pangdam untuk penanganan lapangan yang cepat dan terukur,” ujar Taufiqullah.
Anggaran Rp70 Miliar Demi Keamanan Permanen
Meski jembatan darurat sedang diupayakan, pemerintah tetap fokus pada pembangunan jembatan permanen. Taufiq menjelaskan bahwa kebutuhan anggaran untuk membangun struktur yang sesuai standar keselamatan mencapai Rp70 miliar.
BACA JUGA: Korban MOB KM Doa Ibu Ditemukan Meninggal di Perairan Panimbang
Keterbatasan fiskal di tingkat Pemerintah Kabupaten Lampung Timur membuat proyek ini tidak mungkin ditangani secara mandiri, sehingga Pemerintah Provinsi Lampung harus turun tangan melakukan koordinasi lintas sektor.
“Anggaran Rp70 miliar itu dibutuhkan untuk menyambung akses pendidikan bagi sekitar 90 pelajar di sana. Ini bukan angka yang kecil, tapi ini soal keselamatan anak-anak kita,” tambahnya.
Hasil Survei BPJN: Pembangunan Ulang dari Nol
Kondisi jembatan ini telah menarik perhatian Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, sejak awal menjabat. Pemprov Lampung telah bersurat ke pemerintah pusat, yang kemudian ditindaklanjuti dengan survei teknis oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).
Hasil survei menyimpulkan bahwa opsi perbaikan parsial tidak layak dilakukan karena risiko longsor yang tinggi. Solusi satu-satunya adalah pembangunan ulang secara total guna menjamin keamanan jangka panjang.
Target Rampung Semester Pertama 2026
Taufiqullah memastikan bahwa proses birokrasi terus dikawal agar pengerjaan fisik tidak mengalami kendala berarti. Ia pun meminta masyarakat untuk memberikan dukungan dan sedikit bersabar selama proses berlangsung.
“Berbagai upaya sudah dilakukan Pak Gub sejak awal menjabat. Insya Allah, Jembatan Merah Putih ini akan jadi solusi nyata. Targetnya, semester pertama 2026 ini selesai,” pungkasnya. (***)


Comments