Akses Diblokir

Pendidikan

ADI Dorong Akselerasi Kolaborasi Tridarma Perguruan Tinggi dan Industri Kreatif

Foto: DOK HUMAS UIN RIL

OTENTIK ( JAKARTA ) -- Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) mendorong percepatan kolaborasi Tridarma Perguruan Tinggi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mengembangkan talenta, memperkuat riset inovatif, dan mendorong komersialisasi karya kreatif.

Upaya tersebut sejalan dengan penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang ditutup di Jakarta pada 23 Oktober 2026 oleh Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Konferensi ini melibatkan perwakilan lebih dari 82 negara dan tujuh organisasi internasional, dengan 7.639 peserta serta lebih dari 20.000 pengunjung Creativillage.

Salah satu langkah konkret penguatan kolaborasi ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Kementerian Ekonomi Kreatif dan pimpinan 30 perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UIN Raden Intan Lampung (UIN RIL). 

Kerja sama ini mencakup pengembangan talenta kreatif, pendidikan dan pelatihan sesuai kebutuhan industri, riset kolaboratif, pengembangan produk inovatif, hingga hilirisasi dan komersialisasi hasil penelitian.

Dalam sambutan penutupnya, Teuku Riefky menegaskan pentingnya keberlanjutan kolaborasi global melalui pengesahan Jakarta Vision on Creative Economy sebagai landasan komitmen bersama untuk memajukan ekonomi kreatif dunia.

“Kita harus bekerja sama untuk memastikan akses teknologi dan infrastruktur digital yang lebih inklusif, memperkuat kolaborasi antar-kreator dengan keberlanjutan sebagai prioritas, mendorong remunerasi yang adil dan perlindungan kekayaan intelektual, serta memperluas akses pendanaan dan investasi bagi pelaku ekonomi kreatif,” ujarnya.

Ketua Umum ADI sekaligus Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Prof. Mohammed Ali Berawi, menekankan pentingnya menghubungkan kapasitas akademik dengan kebutuhan industri agar riset perguruan tinggi memberikan dampak nyata bagi perekonomian.

Kolaborasi pemerintah, akademisi, industri, komunitas, media, dan investor dinilai penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Implementasinya dapat dilakukan melalui riset bersama, inkubasi usaha kreatif, keterlibatan mahasiswa dalam proyek industri, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI), serta perlindungan kekayaan intelektual.

Melalui jejaring dosen dan peneliti, ADI diharapkan turut mendorong pengembangan inovasi, pendampingan pelaku usaha kreatif, dan perluasan akses pasar bagi produk lokal. Kerja sama ini juga diharapkan memperkuat peran perguruan tinggi sebagai penggerak inovasi dan penciptaan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Ketua DPW Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Provinsi Lampung yang juga Rektor UIN RIL, Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D., mendukung kolaborasi perguruan tinggi dengan industri, termasuk sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, kemitraan tersebut perlu diwujudkan melalui program nyata yang memberi ruang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk mengembangkan potensi kewirausahaan.

“Sangat setuju apabila perguruan tinggi bekerja sama dengan industri, termasuk industri kreatif. Kita bisa membangun pusat industri kreatif di kampus untuk melatih talenta muda dalam mengembangkan kewirausahaan berbasis produk kreatif,” ujarnya.

Ia menilai, kolaborasi tersebut dapat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, hasil riset dan kreativitas sivitas akademika tidak hanya berhenti pada kegiatan akademik, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Adapun perguruan tinggi yang tercantum dalam daftar mitra meliputi Institut Kesenian Jakarta, Universitas Mohammad Husni Thamrin, Universitas Brawijaya, Universitas Budi Luhur, Universitas Catur Insan Cendekia, Universitas Esa Unggul, Universitas Harapan Medan, Universitas Insan Pembangunan Indonesia, Universitas Internasional Jakarta, Universitas Islam Aceh, UIN Raden Intan Lampung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Kemudian Universitas Klabat, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Lampung, Universitas Mathla’ul Anwar, Universitas Metaguna, Universitas Mulawarman, Universitas Nasional, UNAS PASIM, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Nusa Cendana, Universitas Pamulang, UNIPI/UNPI Manado, Universitas Raharja, Universitas Teknokrat Indonesia, Universitas Terbuka, Universitas Teuku Umar, serta Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda.

Ruang lingkup kolaborasi tersebut mencakup pengembangan kompetensi dan talenta kreatif, pelaksanaan pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri, riset kolaboratif, pengembangan inovasi dan produk kreatif, serta hilirisasi dan komersialisasi hasil penelitian. 

Kerja sama juga berpotensi mencakup pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI), perlindungan kekayaan intelektual, inkubasi usaha kreatif, serta penguatan jejaring industri dan investasi. Implementasinya diharapkan diterjemahkan ke dalam program kerja bersama yang konkret sesuai potensi dan kompetensi masing-masing perguruan tinggi.(***)

Comments